Kenangan Seekor Burung Kutilang

16 01 2010

Matanya kecil berwarna hitam, bulunya berwarna hitam keabu-abuan, warna putih juga ikut menyelimuti beberapa bagian bulunya. Paruhnya mungil namun terlihat kokoh. Cakarnya tajam namun masih sangat halus. Tubuhnya kecil mungil dan terasa sangat lunak ketika aku menyentuhnya. Seekor burung kutilang yang baru lahir terlihat jatuh di bawah pohon besar milik teman ibuku. Saat itu, aku sedang menghadiri pesta pernikahan saudara ibuku. Setelah pesta usai, aku diajak bertamu ke rumah teman ibuku yang kebetulan terletak tidak jauh dari tempat pesta pernikahan tersebut.

Namun, ketika aku sedang bertamu, seorang anak kecil berteriak,”ayah!! Cepat kesini, ada yang jatuh!!”

Dengan segera si ayah menghampirinya,”burung??” tanyanya heran terlebih kepada dirinya sendiri. Dengan hati-hati ia membawa burung itu ke dalam ruang tamu.

“hmm ada yang mau memelihara burung ini??” tanyanya kepada kami sekeluarga.

“kenapa tidak dikembalikan kepada ibunya saja?? Maksudku kenapa tidak ditaruh kembali ke atas pohon?” tanyaku khawatir akan nasib burung kecil tersebut. Karena setauku, si ibu burung akan marah dan khawatir jika kita mengambil anaknya tanpa izin darinya-seperti film tom & jerry yang sering kutonton pada masa itu.

Sambil menatap diriku dengan senyum di bibirnya, ia menjawab,”pohonnya terlalu tinggi, tidak mungkin menaruhnya kembali.” Jelasnya berusaha agar aku mengerti dengan situasi disana- bukannya dia tidak mau mengembalikan si anak burung ke ibunya.

Aku menyukai binatang, sangat menyukai binatang. Apapun itu kecuali serangga. Aku ingin memeliharanya namun aku takut ayahku tidak menyetujuinya. Kutatap ayahku dengan tatapan penuh harap,”ayah, aku ingin memeliharanya, boleh ya??” tanyaku dengan nada memohon.

Ayahku terlihat bimbang, dan aku tahu alasannya. Kulirik ibuku,” bu, boleh ya?? Kasihan dia..” kataku lagi-lagi dengan nada memohon.

Melihat aku begitu menginginkan burung itu, teman ibukupun ikut membujuknya,” disini tidak ada yang bisa merawatnya, lebih baik kalian saja yang merawatnya. Lagipula, anakmu terlihat begitu menginginkannya.”

Tidak lama kemudian, ibuku mengangguk dan berkata,”tapi janji, kamu harus merawatnya baik-baik..tidak boleh ditelantarkan.” Katanya menuntut janji, agar aku bisa memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang aku minta.

Dengan hati yang sangat gembira, aku membawanya pulang. Di perjalanan pulang, aku ragu akan kesehatannya. Ia baru saja jatuh dari pohon yang cukup tinggi, padahal tubuhnya masih sangat lunak. Dan di sepanjang perjalanan, ia tidak banyak bergerak dan terlihat lemah.

Setibanya di rumah, aku memberinya makan. Tapi setelah mengamatinya selama beberapa saat- berharap si burung dapat segera memakannya-, aku merasa sangat khawatir akan kesehatan si burung karena ia enggan memakan potongan papaya yang kuberikan. Aku takut ia sakit karena jatuh tadi. Aku segera memanggil ayahku dan menanyakan alasan mengapa si burung enggan memakan buah papaya yang kuberikan.

Dengan senyum kecil di bibirnya-walaupun tidak seramah yang seharusnya, ayahku berkata,”burung ini masih kecil, ia masih tidak mampu mematuk makanannya sendiri. Jadi ia harus disuapi.” Jelasnya padaku.

Tangannya sibuk mencungkil sebagian kecil dari potongan papaya yang cukup besar dengan sebatang tusuk gigi. Lalu aku terperangah ketika ayahku mendekatkan tusuk giginya kepada paruh si burung, karena tanpa kusangka, ia benar-benar membuka paruhnya dan memakan cungkilan pepaya tersebut.

Ayahku tersenyum puas dan menyerahkan tusuk giginya kepadaku,” lanjutkan hingga ia tidak mau lagi membuka mulutnya yang menandakan ia telah kenyang. Setelah itu, berikan ia minum dengan sedotan aqua gelas agar ia bisa meminumnya-tentu dengan cara menahan air itu, bukan dengan cara disedot.”

Sebelum ayahku pergi, ia kembali berkata,”kamu tidak boleh terlalu banyak memegangnya, ia bisa jatuh sakit atau mati.”

Mendengar itu, aku memutuskan untuk tidak bermain dengannya dulu. Tubuhnya yang mungil membuatku semakin menyayanginya. Aku merasa ia membutuhkan kasih sayang dan karena itulah aku mencoba untuk terus dan semakin menyayanginya. Aku berusaha untuk tidak melukainya- yang seperti ayahku bilang bahwa aku dilarang memegangnya terlalu sering- walaupun otakku terus memerintahkan aku untuk terus mengelusnya dan bermain dengannya. Kian hari, perasaan gembira yang aku rasakan semakin meluap-luap, terkadang aku bermain dengannya tanpa memikirkan larangan yang ayahku berikan, tapi aku tetap berusaha untuk mengalihkan perhatianku darinya-maksudku untuk berhenti bermain dengannya dan kembali mengerjakan perkerjaan rumah atau kewajiban-kewajiban yang harus aku kerjakan sebagai anak dan pelajar yang baik. Aku mengira, aku akan segera bosan dengan burung mungil ini, tapi ternyata tidak, bermain dan mengurusnya dengan segera menjadi kegiatan sehari-hariku yang selalu kutunggu-tunggu dan tidak mungkin aku lewatkan.

Dua minggu telah berlalu, sepertinya ia sudah sehat kembali. Ia terus bergerak-gerak tidak sabar dalam kandangnya, sampai aku memutuskan untuk mengajarinya terbang.

Kututup semua pintu dan jendela yang ada di lantai satu rumahku, lalu aku membawanya masuk. Aku meletakkan burung ini di atas meja makan besar yang sudah beralih fungsi menjadi tempat taruh buku dan lain-lain. Aku segera menempatkan diriku tidak jauh darinya (mungkin 1 meter dari meja tersebut) dan memanggil-manggilnya. Aku terus memanggilnya dengan berbagai macam nama, dimulai dari Richard, William, Kelly, doggy, Bonny dan lain-lain. Tiba-tiba ia berhasil mengepakkan sayapnya untuk yang pertama kalinya dan menghilang ketika aku memanggilnya dengan nama ‘Ray’ sebanyak beberapa kali. Aku bingung kemana ia pergi. Tiba-tiba terasa kebasan angin di pundakku. Aku segera memalingkan wajahku dan aku mendapati si burung mungil ini telah bertengger nyaman di pundakku. Aku terkesiap, aku tidak menyangka burung ini dapat terbang ke pundakku, layaknya burung pintar yang terlatih di film-film. Senyum seketika mengembang di bibirku tidak percaya. Semangat mengajarkannya terbang semakin meluap-luap di hatiku. Sekali lagi aku mencoba untuk melakukan hal yang sama, dan untuk kedua kalinya- walaupun menghabiskan waktu lebih lama untuk membuatnya terbang ke pundakku- pula, ia kembali bertengger di pundakku. Aku benar-benar gembira dibuatnya, aku memutuskan untuk terus memanggilnya dengan sebutan ‘Ray’ agar ia dapat mengenali namanya sendiri. Berkali-kali aku berusaha membuatnya terbang dan berkali-kali pula ia berhasil terbang ke pundakku. Setelah berhasil melatihnya terbang, aku kembali membawanya ke kandang. Aku suapi ia makan dan minum agar ia bisa terus sehat.

Perasaan gembira itu terus menyelimuti diriku hingga ibuku berkata,” Ray sudah besar, ia sudah bisa terbang dan ia sudah mampu untuk menghidupi dirinya sendiri.. kamu harus melepaskannya agar ia bisa menjadi lebih bebas dan bahagia.”

Awalnya aku menolak saran tersebut, namun kasih sayangku kepadanya membuatku memutuskan untuk menuruti nasihat ibuku. Dengan perasaan sedih aku melepaskannya. Setelah melihatnya pergi, aku berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah. Tidak sampai setengah jam, aku tidak tahan untuk melihat keluar dan mencarinya. Namun, sebelum aku sempat keluar pagar rumah, aku kembali merasakan kibasan kecil di pundakku. Sedikit terkejut namun aku sangat gembira mendapatinya kembali. Dengan satu pemikiran di otakku, dimana aku harus mengikhlaskannya bila ia benar-benar pergi dan tidak kembali lagi. Tapi selama ia tetap ingin berada di dekatku, aku akan terus mengurusnya, menjaganya. Jadi aku memutuskan untuk melepaskannya setiap pagi dan memasukkannya kembali ke kandang setiap malam.

Pukul tiga lebih tiga puluh menit, sebentar lagi aku akan segera sampai di rumah. Aku sudah tidak sabar untuk menemuinya-walaupun sebetulnya aku sedikit takut jika ia benar-benar pergi dari rumahku, karena aku membiarkannya berkeliaran bebas di alam sana seperti layaknya seekor burung yang bisa dengan bebas berkeliaran di luar kandang. Aku tidak mengekangnya sama sekali, namun aku sungguh bahagia karena ia memilih untuk tetap setia di sisiku.

Setibanya aku di depan rumahku, aku melihatnya terbang dari rumah tetanggaku- yang juga memelihara dua ekor burung kutilang, namun mereka dikurung di dalam kandang- dan bertengger bahagia di tiang bagian atas atap rumahku. Ia seakan menari dan bernyanyi dengan gembira di atas sana menyambut kepulanganku. Aku segera berlari ke teras rumahku dan mengetuk kandangnya dua sampai tiga kali, dengan segera Ray terbang ke arahku dan berdiri di atas kandangnya. Ia membuka paruhnya lebar-lebar meminta cungkilan-cungkilan kecil papaya/pisang di mulutnya. Cepat-cepat kusuapi dia dan memberinya minum. Kepalanya mengarah ke atas dan paruhnya terus membuka tutup seiring dengan masuknya air ke dalam mulutnya. Manis, imut. Setelah kenyang, ia terbang ke pundakku meminta aku untuk bermain dengannya, yang tentu akan kuturuti. Aku mengelusnya lembut dan menyalurkan kasihku dengan beberapa tuturan kata-kata tulus kepadanya. Aku hanya berharap ia bisa merasakan kasih sayangku yang sangat amat dalam kepadanya.

Suatu malam, aku mendapati Ray terkulai lemas di kandangnya. Aneh, karena ia tidak bereaksi ketika aku membuka pintu kandangnya, maksudku tidak biasanya ia seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk memanggilnya. Namun ia hanya menatapku dengan sorot mata lemah dan ia kembali menyembunyikan kepalanya di dalam dadanya.

Sakit, itu yang terlintas di kepalaku. Cepat-cepat aku memanggil ibuku dan memberitahunya tentang keberadaan Ray. Ibuku memang sudah sangat menyayangi Ray, sehingga aku yakin ia bisa membantuku untuk menyembuhkan Ray, apalagi ia telah dibekali segudang pengalaman hidup. Setelah melihat keadaan Ray, ia menyarankanku untuk memberinya obat cina yang biasa kuminum untuk menurunkan panas. Sebetulnya aku sedikit ragu ketika mendengarnya. Tapi aku menurutinya. Aku panggil pembantuku dan meminta bantuan darinya. Aku terus mengamati proses pemberian obat tersebut kepada Ray. Aku sedikit sedih ketika mendapatiaku sendiri tidak dapat membantu Ray dalam proses penyembuhannya, karena aku tidak begitu mengerti saat itu. Setelah memberinya minum obat, pembantuku mengelus-elus pelan tubuh Ray dari belakang hingga tengkuknya. Alhasil, sejumlah lendir hijau keluar dari paruhnya. Cukup banyak. Namun setelah itu, pembantuku yakin akan kesembuhan Ray esok. Setelah-dengan berat hati-kembali ke kamar, aku berdoa untuk kesembuhannya dan mencoba untuk tidur. Sulit, namun ketidaksabaranku untuk melihat burung kesayanganku sembuh, memaksaku terlelap.

Sungguh, ia kembali sehat. Ia kembali bisa terbang ke pundakku dan bermain denganku. Kebahagiaanku  tidak membuatku lupa untuk berterimakasih kepada ibuku dan pembantuku. Dan hingga sekarang, aku tidak pernah lupa akan jasa sang pembantu.

Setelah melewati beberapa hari gembira bersama Ray, aku kembali dikhawatirkan oleh kepergiannya ketika aku membawanya keluar rumah-seperti biasanya. Kali ini, ia terbang ke sebuah pohon yang berada tidak jauh dari rumahku. Dengan segera aku buka pintu pagar rumahku dan menghampiri pohon tersebut, tapi bukannya turun, ia malah terbang semakin tinggi ke pohon yang berada di sebelahnya. Aku sedikit marah kepadanya ketika mendapati ia enggan kembali padaku. Sesuai dengan janji yang kubuat, aku merelakannya bila ia memang menginginkannya. Aku kembali ke dalam rumah dan menunggu beberapa saat. Hatiku terus memaksaku untuk kembali ke luar dan mencarinya. Tidak tahan akan keinginan hatiku, aku kembali ke luar rumah. Nihil. Tidak ada. Hatiku kembali mencelos dan aku kembali memutuskan untuk kembali ke dalam rumah. Namun ketika aku memutar tubuhku, aku kembali merasakan hempasan kecil di pundakku. Hatiku seakan meledak. Ia kembali. Dengan segera, aku memegangnya erat dengan tangan kiriku dan aku mengetuk-ngetuk pelan kepalanya dengan jari telunjukku. Aku memarahinya dan entah kenapa aku merasa ia mengerti akan kegundahanku. Aku tahu ia hanya ingin mengajakku bermain, tidak lebih, namun sebagai hewan, ia tidak mengerti keterbatasanku-sebagai manusia-dalam melakukan berbagai hal. Tapi setelah itu, ia kembali normal, lucu dan penurut.

Tidak sedikit orang yang juga menyayangi Ray. Baik Keluarga, saudara maupun temanku juga sangat menyayanginya. Kepintarannya membuat orang-orang merasa gemas akannya. Tubuhnya yang mungil namun kuat membuatku terangsang untuk mengelusnya lagi dan lagi. Seiring berjalannya waktu, aku semakin menyayanginya dan rasa sayang itu membuat aku takut kehilangannya.

Ray begitu pintar dan lucu. Ia selalu menjadi hewan yang penurut dan tidak banyak tingkah, walaupun sesekali ia senang bermain dengan orang-orang di sekitarnya-seperti kubilang tadi, tanpa tahu keterbatasan kami sebagai manusia. Segala sesuatu di dunia ini memiliki kekurangannya masing-masing, termasuk hewan. Ia menganggap semua orang dan segala jenis hewan memiliki maksud baik terhadapnya. Aku menyadarinya ketika suatu hari aku sedang berjalan keluar rumah dengan maksud memberi Ray makan, aku terpaku saat melihat Ray terbang turun dari atap rumahku dan berdiri tidak jauh dari seekor kucing. ia melompat-lompat menghampiri si kucing yang sedang bersiaga untuk menerkam burung mungil di depannya ini. Tanpa pikir panjang- maksudku sebelum sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi-aku segera melempar sandal yang kupakai ke arah si kucing jahat. Sandalku tidak mengenai si kucing, aku hanya menggertaknya saja. Dan dengan segera mereka berpisah, Ray kembali padaku dan si kucing kabur entah kemana.

Sejak kejadian itu, kekhawatiranku terhadap burung mungil ini semakin menjadi-jadi, namun aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku bukan pelatih burung, aku hanya seorang murid sekolah dasar yang masih duduk di kelas 6. Aku tidak tahu bagaimana mengajarinya bahwa kucing bukanlah binatang yang bersahabat untuknya. Aku tidak bisa berkomunikasi secara verbal dengannya dan karena alasan itulah, ia tetap tidak mengerti tentang kebenaran itu.

Suatu hari, ia tidak ada di sekitar rumahku. Aku mencarinya kemana-mana, aku cemas karena setelah aku memberinya makan saat pulang sekolah, ia pergi seperti biasanya, tapi anehnya hingga pukul enam sore, ia masih belum pulang. Kali ini aku benar-benar gelisah. Aku mencarinya kemana-mana, tapi tetap tidak dapat menemukannya. Akhirnya aku dibujuk pulang dan aku menurutinya. Aku pulang dengan harapan ia telah berada di sangkarnya-yang terbuka agar ia dapat keluar masuk sangkar dengan bebas, selain pada waktu malam, karena biasanya sangkarnya akan kututup jika malam telah tiba. Nihil, ia belum pulang. Aku bergegas mandi dan menyantap makan malamku dengan perasaan gundah dan kembali mencarinya. Pukul tujuh, hari sudah gelap, sebetulnya aku juga bingung harus mencarinya kemana, namun sebelum aku sempat keluar pagar, sekali lagi, hempasan kecil terasa lembut di pundakku. Hatiku serasa jungkir balik karenanya. Ia kembali!! Aku segera mengelusnya dan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjukku. Gemas aku padanya, tapi aku tetap merasa bersyukur atas kembalinya burung mungil ini.

Hari-hari bersama dengan burung mungil ini terasa amat menyenangkan. Disaat aku sedang gundah, aku sering bermain bersamanya dengan maksud meringankan isi kepalaku selama beberapa saat. Tapi keberadaannya tidak mampu kupertahankan. Aku tidak mampu membuatnya senantiasa berada di sisiku. Beberapa hari setelah itu, ia kembali melakukan hal yang sama, ia kembali membuatku cemas. Sudah pukul enam, namun aku belum menemukan keberadaannya di lingkungan sekitarku. Tapi hatiku tidak secemas dulu, aku sudah mulai terbiasa dengan tingkah lakunya yang sering bermain hingga lupa waktu. Ada keyakinan yang dalam di hatiku dimana ia akan kembali sebelum jam tujuh. Sembari menunggunya pulang, aku melanjutkan rutinitasku seperti biasanya. Jarum pendek mulai menunjukan pukul tujuh, namun ia masih belum pulang, anehnya kali ini aku lebih santai dalam menghadapi hal ini. Aku terus menunggunya dengan harapan dapat merasakan kembali hempasan kecil di pundak kananku. Nihil. Ia tidak kunjung pulang. Sudah pukul sembilan dan ia belum pulang, aku mulai merasa takut. Aku takut ia benar-benar akan meninggalkanku, benar-benar kembali ke dunia bebas-walaupun aku tetap tahu, aku akan merelakannya jika memang itu yang ia inginkan. Pukul sebelas, dan ia masih belum pulang. Hatiku semakin gundah, semakin pasrah pula diriku. Dengan perasaan campur aduk, aku mencoba untuk tidur. Sulit, namun harapanku untuk melihatnya besok, membuatku kembali terlelap.

Matahari seakan kembali menjalankan tugasnya setelah melewati malam yang indah. Pancaran sinarnya seakan menarikku kembali ke dunia nyata. Setelah berhasil mengumpulkan seluruh ‘nyawa’ku dan memperoleh kesadaran penuh, aku segera turun dan keluar rumah-masih dengan harapan dapat melihat burung mungil itu sedang terbang kesana kemari di pohon srikaya yang tertancap kokoh di taman rumahku. Tidak ada. Kekhawatiranku segera berganti menjadi kepasrahan. Aku terus mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa Ray telah pergi menjalani hidupnya sendiri yang bebas tanpa kekangan. Namun, hati kecilku masih tidak percaya jika dia meninggalkanku begitu saja. Kegundahanku segera sirna ketika mendapat kabar dari tukang bangunan seberang rumah yang mengaku melihat Ray, burung mungilku diterkam oleh seekor kucing, mati. Itu tidak pernah terlintas di benakku. Hatiku seketika hancur dan pikiranku melayang tidak karuan. Tanpa perlu dikomando, otakku terus membuat berbagai gambaran di benakku membayangkan kejadian itu. Dan setiap kali aku membayangkan kejadian yang menimpa burung mungilku itu, aku merasa sangat amat sedih. Setelah puas menangis, aku memutuskan untuk berdoa menurut ajaranku dan menjadikannya sebagai kenangan terindah yang pernah kumiliki.

Mungkin cerita ini terdengar sangat berlebihan atau mungkin tidak penting, tapi inilah yang sebenarnya kurasakan dan kualami. Aku hanya ingin berbagi tentang pengalamanku yang menurutku sangat berarti dan mencoba untuk mengabadikannya. Karena tidak ada yang lain selain ingatan di kepalaku, tidak ada video maupun foto yang dapat menjadi tempat dimana aku bisa mencurahkan seluruh kerinduanku. Namun segalanya tetap tersimpan rapi dalam benakku, dan kuyakin, akan tetap begitu, selamanya. Tidak akan pernah sirna.